FMIPA UNCEN Teliti Peran Kupu-Kupu sebagai Penyerbuk untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan di Keerom

FMIPA UNCEN Teliti Peran Kupu-Kupu sebagai Penyerbuk untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan di Keerom

Jayapura, 08 Agustus 2026 — Tim penelitiFakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih (UNCEN) Peran Ekologis Papilionoidea sebagai Pollinator pada Lanskap-Agroekosistem dan Ekosistem-Alami untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan di Keerom, Papua.”

Penelitian ini diketuai oleh Dra. Daawia, M.Sc., dengan anggota tim Prof. Dr. Suriani Br. Surbakti., Drs. Bambang Suhartawan, M.Mt., serta melibatkan mahasiswa Mesak Wandik dan Yeton Yando. Penelitian tersebut berfokus pada pengungkapan keragaman kupu-kupu dari Superfamili Papilionoidea serta perannya sebagai penyerbuk pada ekosistem alami dan agroekosistem di Kabupaten Keerom, Papua. Kupu-kupu tidak hanya memiliki nilai estetika dan ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan proses penyerbukan tumbuhan berbunga yang mendukung produktivitas ekosistem dan pertanian.

Urgensi penelitian ini semakin penting di tengah berbagai tekanan lingkungan, seperti perubahan iklim, penggunaan pestisida dan herbisida, serta konversi hutan menjadi perkebunan monokultur. Berbagai perubahan tersebut berpotensi menyebabkan penurunan keragaman dan kelimpahan kupu-kupu sebagai salah satu kelompok serangga penyerbuk.

Dalam pelaksanaannya, penelitian menggunakan dua pendekatan sampling. Pertama, pengamatan keragaman Papilionoidea dilakukan menggunakan transect count method pada line transect. Kedua, pengamatan terhadap tumbuhan berbunga, baik tumbuhan liar maupun tanaman hortikultura yang diserbuki oleh kupu-kupu Papilionoidea, dilakukan menggunakan visual count method dan all out search method (AOSM).

Kegiatan sampling dilakukan pada beberapa tipe habitat di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, yaitu hutan primer di Kampung Ubiyau, serta hutan sekunder dan agroekosistem di Kampung Yuwanain. Perbandingan berbagai tipe habitat tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi komunitas Papilionoidea sekaligus hubungan antara keberadaan kupu-kupu dengan tumbuhan berbunga yang menjadi sumber pakan dan lokasi aktivitas penyerbukan.

Tim peneliti menilai bahwa perubahan iklim, konversi hutan, dan intensifikasi pertanian dapat menurunkan keanekaragaman kupu-kupu dan pada akhirnya melemahkan layanan ekosistem berupa penyerbukan. Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap produktivitas tanaman dan secara tidak langsung dapat mengancam ketahanan pangan masyarakat.

Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian mengenai dampak konversi hutan dan intensifikasi pertanian terhadap keragaman dan kelimpahan Papilionoidea serta perannya sebagai penyerbuk di Keerom, Papua. Kajian tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penyerbuk lokal dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang strategi mitigasi kerusakan lingkungan dan perubahan iklim melalui konservasi tumbuhan berbunga beserta serangga penyerbuknya. Selain itu, penelitian ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan model agroekosistem berbasis pollinator lokal Papua yang mempertimbangkan aspek ekologis dan keberlanjutan pertanian.

Penelitian ini juga memiliki relevansi dengan berbagai agenda pembangunan berkelanjutan, termasuk Asta Cita, Sustainable Development Goals (SDGs), Prioritas Riset Nasional (PRN), RPJMN, serta Rencana Aksi Nasional Konservasi Serangga Penyerbuk. Melalui penelitian ini, Universitas Cenderawasih turut berkontribusi dalam memperkuat basis pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati Papua sekaligus mendorong pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan di Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published.