Jayapura, 9 September 2026 — Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Papua kembali menggelar BISIK (Bincang Singkat) Seri 3 secara daring dengan mengusung tema “Sagu, Umbi, dan Pangan Masa Depan: Haruskah Pangan Lokal Selalu Tradisional?”
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk menggali potensi pangan lokal Papua, khususnya sagu dan umbi-umbian, sekaligus membahas peluang pengembangannya melalui inovasi teknologi pangan. Tema tersebut relevan dengan tantangan pengembangan sistem pangan masa depan, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi, pemanfaatan sumber daya pangan lokal secara berkelanjutan, serta peningkatan nilai tambah komoditas daerah.
Diskusi dipandu oleh Raini Panjaitan, S.TP., M.Si., dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Cenderawasih, sebagai moderator dan menghadirkan Baiq Amarwati Tartillah, S.TP., MFood.Sc., dosen pada program studi yang sama, sebagai narasumber. Dalam paparannya, Baiq Amarwati Tartillah membahas berbagai peluang pengembangan sagu dan umbi-umbian sebagai komoditas pangan potensial untuk masa depan. Inovasi teknologi pangan, menurutnya, dapat memperluas pemanfaatan komoditas lokal melalui diversifikasi produk sehingga mampu menjangkau kebutuhan dan preferensi konsumen yang terus berkembang.
Diskusi juga menekankan bahwa pengembangan pangan lokal tidak harus dimaknai sebagai upaya mempertahankan seluruh produk dalam bentuk tradisional. Inovasi dapat dilakukan dengan tetap menjaga karakteristik bahan, nilai budaya, serta kekhasan sumber daya pangan daerah. Sagu dan umbi-umbian, misalnya, tidak hanya memiliki nilai penting sebagai bagian dari pangan tradisional masyarakat Papua, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk pangan inovatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Perkembangan teknologi pangan membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pengembangan produk, peningkatan mutu dan keamanan pangan, serta penerapan teknologi pengolahan yang tepat. Dengan pendekatan tersebut, inovasi tidak perlu dipandang sebagai upaya meninggalkan tradisi. Sebaliknya, inovasi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pangan lokal tetap berkembang, bernilai ekonomi, dan relevan bagi generasi mendatang.
Melalui BISIK Seri 3, PATPI Papua juga mendorong semakin luasnya diskusi mengenai masa depan pangan lokal Papua. Pengembangan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi antara akademisi, praktisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat agar pangan lokal tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi bagian penting dari sistem pangan masa depan. Keterlibatan dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Cenderawasih dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan kontribusi akademisi dalam mendorong pengembangan pangan berbasis potensi lokal Papua. Sagu dan umbi bukan sekadar pangan tradisional. Melalui inovasi yang tepat, keduanya berpeluang menjadi bagian penting dari wajah pangan Papua di masa depan.
Kontributor: JW & ND

Leave a Reply