Jayapura – Perempuan dari tiga kampung di kawasan Danau Sentani, yaitu Kampung Ayapo, Kampung Yoboi, dan Kampung Kwadeware, mengikuti Diskusi Kelompok Terarah, Focus Group Discussion (FGD) Perempuan Sentani yang mengangkat tema “Pengetahuan Ekologis Perempuan sebagai Dasar Aksi Konservasi Danau Sentani.” Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk menggali, mendokumentasikan, dan memperkuat pengetahuan ekologis yang dimiliki perempuan adat sebagai landasan dalam mendukung upaya konservasi Danau Sentani secara berkelanjutan.
FGD Perempuan Sentani merupakan kegiatan penutup dari seluruh rangkaian program penggalian pengetahuan dan penyusunan rekomendasi konservasi Danau Sentani. Sebelumnya telah dilaksanakan FGD Ondoafi yang menghimpun perspektif para pemimpin adat mengenai pengelolaan Danau Sentani, dilanjutkan dengan Webinar Nasional yang menghadirkan akademisi, peneliti, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan serta strategi konservasi danau, kemudian FGD Para Ahli yang memperkaya pembahasan melalui kajian ilmiah dan rekomendasi teknis. Melalui FGD Perempuan Sentani, rangkaian kegiatan tersebut dilengkapi dengan perspektif perempuan yang selama ini memiliki kedekatan erat dengan kehidupan dan sumber daya alam Danau Sentani.
Perempuan dari Kampung Ayapo, Yoboi, dan Kwadeware berbagi pengalaman, pengetahuan, serta praktik-praktik lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam menjaga keseimbangan ekosistem Danau Sentani. Pengetahuan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemanfaatan tanaman lokal, pengelolaan hasil perikanan, pemanfaatan dusun sagu, hingga pemahaman terhadap perubahan musim dan kondisi lingkungan yang mereka alami dari waktu ke waktu.

Dalam pelaksanaannya, peserta dari masing-masing kampung dibagi ke dalam dua kelompok diskusi, sehingga terbentuk enam kelompok yang secara bersamaan mendalami berbagai aspek pengetahuan ekologis masyarakat Sentani. Keenam kelompok tersebut membahas enam tema utama, yaitu musim dan kalender, air danau, ikan, dusun sagu dan sagu, hutan, serta pangan dan kebun. Melalui pembagian kelompok ini, setiap peserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, pengetahuan, serta pandangan mengenai perubahan lingkungan yang mereka rasakan sekaligus mendokumentasikan praktik-praktik lokal yang masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan menggali hubungan masyarakat, khususnya perempuan, dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka. Para peserta mengidentifikasi berbagai perubahan yang terjadi di Danau Sentani, seperti perubahan pola musim, kondisi kualitas air, berkurangnya sumber daya ikan, perubahan pada dusun sagu, berkurangnya tutupan hutan, hingga tantangan dalam mempertahankan sumber pangan dari kebun. Di tengah berbagai perubahan tersebut, perempuan Sentani tetap memegang pengetahuan lokal mengenai cara membaca tanda-tanda alam, menentukan musim tanam dan panen, memanfaatkan hasil hutan dan perairan secara bijaksana, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi berikutnya.

Berbagai pengalaman dan pandangan yang disampaikan peserta menjadi masukan penting dalam penyusunan rekomendasi aksi konservasi Danau Sentani yang lebih inklusif dan berbasis pengetahuan lokal. Keterlibatan perempuan dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelestarian lingkungan karena peran mereka sangat dekat dengan pengelolaan sumber daya alam dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Selain menjadi wadah berbagi pengalaman, FGD ini juga memperkuat kolaborasi antara masyarakat adat, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi konservasi Danau Sentani. Integrasi antara pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal diharapkan mampu menghasilkan langkah-langkah konservasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga menghormati nilai-nilai budaya dan praktik adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta diajak untuk menuliskan harapan mereka bagi masa depan Danau Sentani berdasarkan tema-tema yang telah didiskusikan. Harapan-harapan tersebut menggambarkan keinginan agar musim dan siklus alam tetap terjaga, kualitas air danau semakin baik, populasi ikan tetap lestari, dusun sagu dan hutan tetap terlindungi, serta kebun dan sumber pangan masyarakat terus memberikan kehidupan bagi generasi mendatang. Melalui tulisan sederhana tersebut, perempuan Sentani menyampaikan pesan bahwa kelestarian Danau Sentani merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga melalui kepedulian, pengetahuan, dan aksi nyata.

Momen penulisan harapan menjadi penutup yang penuh makna bagi seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari FGD Ondoafi, Webinar Nasional, FGD Para Ahli, hingga FGD Perempuan Sentani. Harapan-harapan yang terkumpul menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga Danau Sentani sebagai ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Dengan menempatkan pengetahuan ekologis perempuan sebagai salah satu fondasi konservasi, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penyusunan strategi dan kebijakan pelestarian Danau Sentani yang berkelanjutan serta berpihak pada masyarakat adat sebagai penjaga utama ekosistem danau.
Leave a Reply